Ginzadevisi's Blog

This Blog contains my Ideas, Thoughts, Expressions, Knowledge sharing and Experiences

Memiliki Kehilangan

Sepulang Kerja Praktek dari Cilacap, secara tak sengaja mendengar kembali lagu Letto: Memiliki Kehilangan. Dulu sempat melihat video klipnya di TV, tapi karena lagunya slow, jadi tidak begitu ambil dengar.

‘rasa kehilangan hanya akan ada
jika kau pernah merasa memilikinya’

Dua baris kalimat dari potongan lirik lagu milik Letto tersebut ternyata memiliki makna yang sangat dalam.
Memiliki kehilangan. Dua kata yang kontradiktif, berlawanan satu sama lain. Layaknya siang dan malam, langit dan bumi, ombak dan lautan. Memiliki adalah lawan dari kehilangan. Kalau kita tidak mau kehilangan, jangan pernah merasa memiliki. Karena rasa kehilangan hanya akan ada jika kita merasa memiliki.

Rasa memiliki sesuatu akan membuat kita merasa kehilangan apabila sesuatu itu telah sirna dari kehidupan kita. Hal tersebut patut kita aplikasikan dalam hidup ini. Semua yang kita miliki sekarang hanyalah titipan dariNya. Sewaktu-waktu dapat diambil olehNya. Karena segala sesuatu yang kitra miliki sekarang pada akhirnya akan kembali padaNya dan kita yang diberi amanah harus dapat mempertanggungjawabkan.

Maka, karena semua yang ada di dunia ini adalah milikNya, kita harus ikhlas jika sewaktu-waktu sang Pemilik mengambilnya dari kita.

Ramadhan-ku

kulihat Ramadhan dari kejauhan
perlahan pergi meninggalkanku
untuk waktu yang sangat lama
dalam ketidakpastian,
dapatkah kita berjumpa kembali..

sungguh telah merugi diriku,
tak sempat mempersiapkan kehadiranmu
tak dapat meyambutmu dengan baik
tak cukup memanfaatkan keberkahanmu
tak sanggup memaksimalkan malam-malammu

maka hanya satu doaku:
pertemukan kembali aku dengan Ramadhan…
dan kuatkan aku untuk menjalani 11 bulan ke depan…

I Love Surabaya!!

Berawal dari kerja praktek yang merupakan beban studi 2 SKS sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa S1 jurusan Teknik Kimia ITS, menggoreskan sekilas pengalaman dalam perjalanan hidupku.

Adalah seorang bernama Yulius, teman seangkatan sekaligus partner kerja praktek ku yang membawaku melaksanakan beban studi 2 SKS tersebut ke sebuah kota bernama Cilacap.

Ya, saya kerja praktek di Cilacap. Mungkin sebagian sudah tahu dimana Cilacap itu., tapi tidak sedikit juga yang hanya sekedar tahu atau hanya pernah mendengar sekilas saja tentang kota itu dan kemudian akan balik bertanya lagi: Cilacap itu sebelah mana ya? Sebuah kota di Jawa Barat? Dan saya pun termasuk yang kedua.

Tidak seperti nama kota yang berawalan ‘ci-‘ lainnya yang berada di Jawa Barat, Cilacap berada di bagian selatan Jawa Tengah dan berbatasan dengan propinsi Jawa Barat.

Kalau kemudian saya menyebut bahwa tepatnya saya kerja praktek di Pertamina, semua pasti sudah sangat akrab dengan nama perusahaan yang satu itu. PERTAMINA, satu-satunya BUMN pengelola tunggal di bidang minyak dan gas bumi di Indonesia. Unit Pengolahan (UP) IV Pertamina yang berada di Cilacap adalah unit pegolahan terbesar di Indonesia.

Beban studi 2 SKS yang harus kutempuh selama 2 bulan di Pertamina Cilacap membuatku harus jauh dari rumah, orang tua, dan tentu saja, dan tentu saja kota tercinta yang sudah kutinggali lebih dari 20 tahun: Surabaya. Kerinduanku pada kota Surabaya inilah yang menjadi tulisan pertama yang kutuangkan ke dalam blog ini.

Adzan subuh yang bersusulan menggema dari satu masjid ke masjid yang lainnya menyambut kedatangan ku di Cilacap. Pertama kali keluar dari tempat kos, yang kurasakan hanya sepi, jalanan kosong, dan panas, padahal waktu itu belum jam sembilan pagi dan matahari belum sampai pada puncak peraduannya.

Kami berempat, termasuk seorang temanku yang asli Cilacap berangkat bersama jalan kaki menuju kantor Pertamina untuk melakukan registrasi, salah satu prosedur awal yang harus dilakukan bagi mahasiswa yang diterima untuk melaksanakan kerja praktek disini.

Ternyata, jarak dari tempat kos ku sangat dekat dengan Pertamina. Keluar dari gang adalah sebuah jalan besar dimana perusahaan Pertamina berada. Aku melihat sekeliling, tetap sama: jalanan juga masih sepi ketika itu. Aku mulai membandingkan dengan kota asalku: Surabaya. Seperti membaca pikiranku, temanku yang asli Cilacap berkata: ‘Ini kota kecil, nggak kayak Surabaya’.

Setelah beberapa hari di Cilacap, aku hanya bisa berteriak dalam hati: ‘Ini sih bukan kota, tapi desa’. Tentu saja itu hanya jeritan hati seorang manusia yang lama tinggal di kota besar seperti Surabaya. Kerinduanku pada Surabaya semakin membuncah kala itu, padahal baru beberapa hari aku berada di Cilacap, aku ingin cepat-cepat pulang ke Surabaya.

Aku rindu pada Surabaya dengan segala keruwetannya, dengan panas-nya, macet-nya jalanan-nya, ramai-nya, gedung-gedung tinggi-nya, orang-orang-nya, logat medok-nya, bonek-nya, dan tentu saja makanan-nya.

Surabaya. City of Heroes. Di Indonesia disebut sebagai kota pahlawan. Aku bersyukur terlahir dan besar di kota Surabaya. Aku bangga menjadi arek Suroboyo. Tapi entah kenapa ini baru kusadari ketika aku berada jauh dari Surabaya. Sebagai kota metropolis dan kota yang terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta dengan jumlah penduduk lebih dari tiga juta jiwa, Surabaya termasuk kota yang relatif aman, damai , dan tentram.

Dengan kompoisi populasi yang beragam. Mulai dari penduduk asli yang berasal dari suku Jawa, Madura, Cina, Batak, Bule, dan pendatang lainnya. Kehidupan masyarakat yang sudah modern, orang-orang yang ramah dan terbuka, tapi tetap waspada. Walaupun kadang orang-orangnya kasar, tetapi sebenarnya barhati baik.

Surabaya juga memiliki banyak tempat-tempat nongkrong untuk anak muda, dan untuk jalan-jalan keluarga. Banyak ruang-ruang publik yang bisa dikunjungi mulai dari taman kota, dan hampir di setiap daerah atau kawasan di Surabaya terdapat mall.

Itulah sekilas pandangan dan kesanku yang selama 20 tahun hidup di Surabaya yang justru tidak aku tulis di Surabaya.

Dan terakhir, aku berharap semangat juang kepahlawanan yang ditorehkan oleh pejuang-pejuang Surabaya dan pahlawan-pahlawan yang telah gugur mendahului kita terus mengalir di bumi Surabaya. Dan aku berharap darahku juga mewarisi semangat juang tersebut, sehingga aku tidak hanya bisa berkata: ‘Aku bangga dengan Surabaya-ku’, tapi suatu saat nanti aku harus bisa membuat Surabaya bangga padaku.

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.